Sabtu, 04 Desember 2010

Naratas Watas Duriat

Saban waktu kanyaah
galigut jeung waktu
cumarita mangsa ka mangsa
kangaranan kanyaah nu badag
nu aya dina hate kuring
jeung anjeun
kanyaah nu ngaliwatan lamping
jungkrang jeung pajamanan
kanyaah kuring jigakebluk
padahal hudang ngadungdu
tuhu kana katangtuan nu matuh
satia kana gurata duriat
nu dipiharep

291109

Sangkuriang

ngalalana, leuleuweungan
muruhkeun lelembutan
rangrang kai pulukan
mireungeuh bingun liwat saking
nedunan boeh rarang dikebatkeun
ting burinyay, ting kareutip
kawas kingkilaban
balebat konkorongok
beurang kageureuwahkeun
sangkuriang ngajenghok
handeueul leumpang sakaparan
teu puguh nu diseja
parahu nangkub nyesakeun tangkuban parahu
talaga raat paseuh bandung
tunggul kai bukit tunggul
rangrang burangrang
Dayang Sumbi teu ngajadi
Sangkuriang jalir janji
kiwari tinggal pasini
dina ati sanubari

margawati, 101010

Kamis, 02 Desember 2010

Macam macam makna kata dalam puisi

MACAM MACAM MAKNA
1. MAKNA LUGAS
2. MAKNA KIAS
3. MAKNA LAMBANG
4. MAKNA UTUH

1. MAKNA LUGAS
    Lugas artinya polos, bersahaja, murni, sebenarnya. makna lugas artinya makna yang sebenarnya atau dengan istilah lain di sebut denotasi. lawannya konotasi atau makna tambahan.
sebagian besar kata-kata yang kita pakai dalamkalimat adalah makna lugas.
    Demikian pulka, puisi yang berisi kata-kata yang memakai makna lugas agak mudah dipahami.
2. MAKNA KIAS
    Pemakaian kiasan dapat membantu dan merangsang imajinasi atau daya bayang pembaca untukmelukiskan apa yang sedang dibacanya itu dalam angan angan sendiri
    Pada puisi "pengimajian" itu amat penting karena merupakan"jiwa" atau kekuatan hidup sebuah puisi.
    Memahami sebuah puisi berarti mengungkapkan perasaan pengarangnya. Ini memang agaksukar. Kata-katanya tidak selalu bermaknalugas. Kata-kata kiasan sangat banyak dipakai pengarang untukmembantu mengungkapkan perasaannya dengan tepat.
memakai kata-kata kias akan menghasilkan makna kias yang cermat, tajam,dapat membantu pengimajian yang jelaslagi hidup.
3. MAKNA LAMBANG
    Ada beberapa kata kias yang menghasilkan maknalambang atua makna simbolis. Kita tahu apa yang dilambangkan oleh "merah putih", "banteng", "kapasa","padi","rantai", dan sebagainya.
4. MAKNA UTUH
    Yang dimaksud makna utuh ialah maknalengkap dari sebuah puisi yang sedang kita telaah.
     Yangtahu dengan tepat makna utuh sebuah puisi, tentu pengarangnya sendiri. Kita para pembaca hanya dapat semaksimalmungkin berusaha memahaminya. setidak-tidaknya kita dapat mendekati maksud si pencipta puisi. Untuk sampai kepada taraf pemahaman sebuah puisi seutuhnya atau selengkapnya,perlu pengetahuan makna yang telah kita bicarakan di muka. Kata harus mamapu menginterpretasikan atau menafsirkan maknakeseluruhan sebuah puisi yang hendak kita ktelaah.


bersambung........

Rabu, 01 Desember 2010

Pemahaman Puisi

UNTUK MEMAHAMI PUISI, ADA BEBERAPA SYARAT YANG PERLU DIPERHATIKAN, SYARATNYA ANTARA LAIN SEBAGAI BERIKUT:

1. Mengubah Larik Puisi
2. Pertalian Makna Pada Larik


1. Mengubah Larik Puisi
   Mengubah leret atau larik-larik puisi dan menambahkan tanda baca (bila perlu), gunanya untuk memudahkan pemahaman. misalnya kita ambil sebagian conto puisi yang berjudul "Priangan si Jelita" yang dikarang oleh Ramadhan K.H berikut ini:

    Berbelit jalan
    ke Gunung Kapur,
    antara Bandung dan Cianjur
            (tanah Kelahiran II)

   Untuk memahami puisi tersebut, maka bait dari puisi tersebut dapat kita ubah menjadi :
    "Berbelit jalan ke Gunung Kapur/antara Bandung dan cianjur"

   Perhatikan pula bait I puisi "Aku" karya Chairil Anwar ini :
            AKU
    Kalau sampai waktuku
    kumau tak seorang kan merayu
    tidak juga kau
   Kita ubah dan kita beri tanda-tanda jeda (berupa garis miring satau atau dua) menjadi:
    Kalau sampai waktuku / kumau tak seorang kan merayu / tidak juga kau //
   Agar lebih jelas, baiklah kita gabungkan dengan bait atua larik-larik berikutnya.
   misalnya :
    Tak perlu sedu sedan itu
    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang
    Biar peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang
    (dan seterusnya)
   Bait II, III, dan IV itu lalu kita ubah menjadi :
    Tak perlu sedu sedan itu // Aku ini binatang jalng dari kumpulannya terbuang // Biar  peluru menembus kulitku / aku tetap meradang menerjang // .... dan seterusnya ...
   Setiap bait puisi itu, entah terdiri atas berapa larik, sebenarnya dapat kita samakan dengan satu paragraf dalam karangan berbentuk prosa, yaitu mengandung satu pokok pikiran.

2. Pertalian Makna pada Larik
   Setiap puisi terdiri dari beberap larik atu baris. Tiap kelompok atau bait ada yang terdiri atas dua larik, tiga larik, dan tidak tertentu jumlahnya.
   Beberapa larik yang membentuk kelompok itulah yang disebut bait, untaian, "rijm" (belanda) atau "strofe".
   Kalimat-kalimat yang terdapat dalam satu bait itu, jika lebih dari satu larik mempunyai pertalian makna. Begitu pula antara bait yang satu dengan yang lain sehingga seluruhnya bersama-sama dengan judul menunjukan makna dari puisi itu.
   Pertalian makna sering tidak kelihatan karena larik-larik itu berupa kalimat tidak lengkap.
   Perhatikan misalnya, contoh sebait atau sebagian puisi "Elang Laut" karya Asrul Sani yang terdiri atas 5 larik ini!

            ELANG LAUT
        Ada elang laut terbang
        senja hari
        antara jingga dan merah
        surya hendak turu,
        pergi ke sarangnya.
        ....................
                    "tiga menguak takdir"

    Kalau kita perhatikan baik-baik, jelas kiranya bahwa larik kedua dan ketiga itu berupa kalimat tidak sempurna.
   Hal itu menyebabkan pertalian makna sebagian puisi kurang jelas.
   Mungkin sebaiknya kita katakan demikian:
    Ada elang laut terbang senja hari / antara jingga dan merah.//
    Surya hendak turun pergi ke sarangnya//

   Apa yang berwarna antara jingga dan merah ?
   Dan apa yang turun ke sarangnya ?
   kiranya anda sependapat, bahwa jawaban yang tepat itu ;
   Yang berwarna antara jingga dan merah ialah senja.
   dan yang turun ke sarangnya ialah surya, jadi bukan elang.

   Di samping itu, ada salah satu usaha untuk memperlihatkan hubungan makna antara larik-larik tersebut dengan memakai penanada hubungan, penanda pertalian atua memakai hubungan eksplisit (secara lahir) dengankata depan, kata sambung, atau alat formal lain misalnya yang berupan afiks atau imbuhan.
(pengantar sastra, 2001:88)


                                    "Azharipoetok"